Salah Jurusan

Bos saya pernah mengeluhkan masalah susahnya mencari programmer yang bagus. Bagus di sini dalam artian bahwa sang programmer minimal mengetahui dasar-dasar pemrograman, basis data, mampu menganalisis aliran program, dan juga mau terus belajar hal-hal baru yang ada di dunia IT.

Dan saya juga ikut mengamati hal ini dari segi banyaknya pelamar yang datang, ditest, diwawancara, namun rata-rata hanya 1 atau 2 orang yang keterima. Mungkin perbandingannya sekitar 15 : 1 ?? Dan angka 15 ini pun diperoleh setelah menyisihkan banyak pelamar yang merupakan pelamar-pelamar dari iklan yang telah berulang kali tampil di media.

Berdasarkan pandangan saya, sebagian besar lulusan IT (sarjana komputer) memutuskan untuk tidak ‘terjun’ ke bidang pemrograman (terutama perempuan!) karena mungkin mereka berpikir bahwa pemrograman bukanlah sesuatu yang mengasyikan, bahkan sesuatu yang menyeramkan, takut dengan deadline, mau menghindari jam lembur yang berlebihan (tidak semua mengalami, percayalah!), tekanan dari client, requirement yang berlebihan. Halah.. Makin dicari ya makin banyak alasannya.

Jadi inget dulu awal-awal kuliah di jurusan ilmu komputer, saya kaget juga ketemu pemrograman yang menurut saya aneh. Padahal waktu itu saya baru belajar pengenalan komputer. Awalnya saya bayangin bakal mempelajari tentang pemakaian komputer, microsoft word dll, tapi yang didapat jauh dari bayangkan. Saya diajarin algoritma yang bikin mumet beserta flow chart, bilangan biner, dll. Waktu itu saya pikir: “Saya salah jurusan”. Tapi saya sudah ga mungkin keluar. Maluin keluarga aja kalo sampe keluar!! Hari-hari awal itu bener-bener dilalui dengan berat dan bingung. Tapi saya punya semangat besar untuk belajar. Orang lain aja bisa, kenapa saya nggak?! Dengan berlalunya waktu, saya justru menyukai pemrograman yang ada di beberapa mata kuliah. Walaupun hanya pemrograman-pemrograman yang sederhana. Tapi bisa bikin program yang jalan aja, saya sudah bahagia sekali pada masa-masa itu.

Sebenernya ga ada istilah “salah jurusan”. Kita harus selalu bisa beradaptasi di lingkungan manapun juga. Kuncinya: percaya.

So, sebenarnya apa kita butuhkan? Semangat untuk mau terus belajar dan menyesuaikan diri. Optimis.

India aja bisa, kenapa kita nggak?!

6 responses to “Salah Jurusan

  1. Semangad Vie…Kita harus komitmen dengan langkah kita di awal. Ketika kita sudah memutuskan arah mana yang diambil maka harus siap menjalankan semua akibatnya. Tapi percayalah, sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.

  2. Smangaatt fit…Kmu kan suhu aq d kul :p suka ngajarin & ngasi semangat ‘harus bisa!!’
    Btw, apapun pilihanmu smg sukses..
    Ciieehh.. gaya :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s